6 desember dini hari kurang lebih
pukul 04.00 saya sudah bangun karena harus memenuhi panggilan interview dan tes
yang berupa sms yang dikirim pada kemarin sore. Pelaksanaan tes tersebut akan
berlangsung di gedung training PT. USG,
tepatnya Jl Pringapus km 5, Ungaran. Saya sendiri belum tahu persis tempatnya,
maka dari itu saya berusaha sedini mungkin untuk dapat datang sebelum pukul
09.00. Karena semalam saya sudah mempersiapkan barang apa saja yang harus saya
bawa, saya dapat berangkat dari rumah pukul 04.45, saya memperkirakan lama
perjalana purwodadi-ungaran pada jam kerja sekitar 3 jam.
Jalan Mranggen-Semarang dipenuhi
oleh anak sekolah dan pekerja pabrik, kemacetan saat itu benar-benar cukup
memakan banyak waktu. Keadaan tersebut membuat saya dahaga, dan saya baru
menyempatkan membeli minuman mineral di minimarket dan tak lupa rokok. Saya
memutuskan beristirahat sebentar sembari menghisap rokok di depan minimarket
sambil membaca buku. Selang beberapa menit tanpa sadar duduk seorang
bapak-bapak disamping saya yang sepertinya juga sedang beristirahat, beliau
meminta tolong putrinya untuk membeli sesuatu dan beliau menunggu disamping saya.
Bermaksud basa-basi saya ajak ngobrol, dari inforamasi yang saya dapat darinya
diantaranya adalah ternyata dia juga asli orang purwodadi, beliau hendak
berobat di pengobatan alternatif. Dia memilih jalur alternatif karena jalur
alternatif dirasa lebih efektif daripada perawatan medis, karena dia sudah
membuktikan sendiri sebelumnya. Sakitnya dapat dibilang sudah menginjak
permasalahan serius yaitu medis menyatakan bahwa beliau mngidap stroke,
kondisinya pada saat itu sudah tidak dapat berbicara dengan jelas bahkan sudah
tidak dapat dipahami (dalam istilah bahasa jawa disebut pelo). Saya lupa untuk
menanyakan bagaimana awal cerita sampai dia tahu pengobatan alternatif di
sumowono. Sepulang rawat inap dari rumah sakit beliau masih belum sembuh total,
kadang gemeteran hingga tidak dapat mengendarai sepeda motor. Akan tetapi
setelah berobat di sumowono (kalau tidak salah namanya Haji Tatri, sebelah
barat pasar terminal) sebanyak tiga kali beliau sudah lebih baik. Hanya itu
informasi yang saya dapat darinya. Lalu saya melanjutkan perjalanan....
Ternyata saya lupa untuk membeli
facial foam, karena saya ingin dalam wawancara nantinya wajah saya dalam
keadaan fresh dan meyakinkan. Saya
juga membeli permen agar saya tidak terlalu banyak merokok, sempat saya bertanya
bapak-bapak yang sedang berada di warung pinggiran tentang ketepatan lokasi PT.
USG dan ternyata letak perusahaan tersebut berada sebelah timur polsek bergas.
Kira-kira 5 km, sesampai didepan perusahaan, saya memutuskan untuk merokok
didepan perusahaan karena juga masih terlalu awal untuk menemui HRD. Kalau tidak
salah saat itu pukul 08.15. Sambil merokok saya merencanakan yang akan saya
lakukan nantinya, setelah parkir motor saya harus lepas jaket, tanya pak satpam
lalu menuju gedung trainer. Sesampai disana saya harus menjawab dengan jawaban
sebagus mungkin dan yang paling utama jangan sampai terlihat panik.
Rokok habis, saya langsung
memasuki pintu gerbang, dan belum dimuali apa-apa saya lupa untuk mencopot
jaket. Wah-wah,..... Di pos penjagaan saya dilayani dengan baik, dia
menjelaskan peraturan untuk menuju gedung
trainer adalah harus meninggalkan tas dan ktp di pos penjagaan, dengan polos
saya mengikuti aturan tersebut, dan saya membawa alat tulis, setelah mengemas alat tulis saya berjalan
menuju gedung training bersama 2 orang asli ungaran dan satu orang dari blora,
mereka juga bermaksud melamar pekerjaan. Kadang-kandang saya memperbincangkan
sesuatu. Namun kadang-kadang kami terdiam karena belum saling mengenal satu
sama lain, dan saat keheningan tersebut saya diingatkan oleh satu dari mereka
mengenai berkas lamaran, karena saat itu tidak saya bawa, dan akhirnya saya
memutuskan untuk kembali ke pos satpam untuk menganmbilnya. Setelah itu saya
bergegas menuju gedung training sendirian.,
Sesampai di gedung training, saya
sempat merasa malu karena hanya saya yang memakai pakaian ala anak muda dengan
hem hitam dan celana hitam yang agak ketat ditambah lagi sepatu yang saya
gunakan bukan sepatu formal, sedangkan yang lainnya memakai baju atasan dan
bawahan berbahan kain yang berwarna hitam putih. Saya langsung diminta untuk
mengisi formulir pendaftaran dan beberapa pertanyaan singkat diantaranya
adalah, “apa kelebihan dan kekurangan anda, apa motivasi anda bekerja di PT.
USG, apa yang anda ketahui tentang PT. USG, apa harapan anda jika sudah
diterima di PT. USG, apa hobi anda, apa yang ingin anda lakukan saat mempunyai
waktu luang.” Hanya itu yang sempat saya ingat, saya mencoba menjawab semua
pertanyaan tersebut sebaik mungkin. Inti dari jawaban saya adalah dengan partisipasi
yang saya berikan saya berharap dapat membantu dalam meningkatkan kualitas,
serta saya dapat mengembangkan bakat serta kemampuan saya dan saya mencoba
mengemukakan sedikit kelebihan saya yang kiranya dapat menjadi nilai tambah
dalam pekerjaan bidang garmen. Seusai mengisi formulir saya diminta untuk
menjalani tes kesehatan di klinik, dan klinik tersebut terdapat pada gedung
pringapus1. Gedung tersebut sangat besar, mungkin luasnya hapir seluas lapangan
sepak bola saya harus berjalan cukup jauh di dalam gedung untuk mencapai
klinik, sesampai diklinik ternyata penuh dengan calon karyawan yang akan
menjalani tes kesehatan, dokter disana menghimbau agar saya diperiksa di klinik
lain yang bertempat di gedung pringapus2. Saya segera menuju klinik pringapus2,
gedung tersbut merupakan bagian seeing (penjahitan pakaian, pemasangan kancing
baju dll) saat memasuki gedung tersebut saya terheran karena melihat banyak
orang bekerja seperti robot. Mereka tertunduk fokus pada mesin jahit, tanpa
menghiraukan kanan kirinya. Oke, Saya segera menuju ruang pemeriksaan. Di sana,
tes kesehatan seperti tensi, tinggi berat badan, histori penyakit dll sepertinya
berjalan dengan baik, akan tapi terdapat satu tes kesehatan yang membuat saya
down, yaitu tes buta warna. Dari 4 angka
tokek yang harus saya jawab, tak satupun dapat terjawab. Akhirnya ibu dokter
hanya meminta menjawab warna apa yang
sedang ia tunjuk, dan saya dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Lalu
dia menyuruh saya untuk menemui seseorang, dan dia menitipkan kertas yang
sepertinya adalah hasil tes keseehatan diri saya kepada dokter senior di gedung
pringapus3. Mamasuki gedung saya disambut oleh seorang perempuan berseragam
satpam, saat itu saya diberi petunjuk dimana saya harus mencari dokter senior.
Keadaan di dalam gedung pringapus3 hampir mirip dengan gedung pringapus2,
karyawan sibuk menggerakan setrika yang ada ditangan mereka, tanpa berlama-lama
saya segera menuju ruangan yang dimaksud. Setelah bertemu bu dokter, beliau
hanya mengajukan pertanyaan singkat jika mempunyai sejarah penyakit yang pernah
diderita. Dan akhirnya tes kesehatan telah selesai. Pesan yang diberikan oleh
petugas yang menyuruh tes kesehatan adalah jika tes selesai segera menuju
gedung training, dan saya segera bergegas menuju gedung training, disana saya
langsung diberikan soal sebanyak 45 soal, 35 soal sedang dang 10 diantaranya
soal logika ringan dimana terdapat 2 pilihan jawaban soal, waktu yang diberikan
selama 1 jam. Menurut saya soal yang paling susah adalah permasalahan
pertidaksamaan linier dan ada juga yang melibatkan trigonometri. Kebanyakan
soal berbentuk operasi hitung tapi dalam skala ribuan. Ada sekitar 5-8 soal
yang saya jawab secara asal. Setelah selesai saya segera menyerahkan kepada
petugas, lalu beberapa menit kemudian saya diberi kesempatan untuk interview.
Seperti interview-interview biasa saya diminta untuk memperkenalkan diri
menggunakan bahasa inggris, dan saya belum dapat menjelaskan diri saya
menggunakan bahasa inggris dengan baik. HRD menanyakan kepada saya apakah saya
seorang peminum ataupun perokok, saya menjawab apa adanya dengan tegas, “dulu
saya juga peminum tp sekarang tidak sama
sekali, dan soal rokok saya masih aktif dan saya berkeinginan untuk berhenti
merokok”. Dia menganggap saya berasal dari keluarga yang mampu karena melihat
pekerjaan orang tua saya, tentunya dengan keadaan tersebut dia mengira hidup
saya jarang mendapatkan tekanan dalam keluarga, lalu saya menjelaskan keadaan
saudara-saudara saya yang kebanyakan belum mapan serta saya dirumah ibu saya
sering mengeluh karena saya tak kunjung mendapat pekerjaan, selanjutnya dia
menanyakan kepada saya apakah mempunyai teman ataupun kerabat di dalam
perusahaan, dan saya juga jawab dengan jujur, “ya, saya punya, dia adalah Rofik
saya kenal sejak duduk di bangku kuliah.” Karyawan HRD tersebut lantas segera
menghubungi Rofik agar dapat menuju gedung training. Mmmmmm, ternyata petugas
HRD tersebut juga meminta pertimbangan kepada Rofik apakah saya layak untuk
bekerja di perusahaan tersebut. Baru saya tahu, mengapa dia bertanya demikian.
Dan Rofik menyetujui agar saya dapat bekerja di PT. USG. Saya kali ini banyak
berhutang budi padanya, padahal saya tahu pasti dia mengetahui saya belum
mempunyai kemampuan yang cukup untuk bekerja. Saya harus berterimakasih banyak
padanya. Perbincangan kami bertiga yaitu saya, Rofik dan petugas HRD menjadi
tidak tegang dan HRD mulai ngobrol terbuka bahkan dia juga menyuport saya, dia
menilai bahwa saya kurang tegas hal itu dapat dillihat dari mimik wajah, dan
postur tubuh. Dia meminta saya agar lebih tegas dan apabila saya bersedia berjuang
dan berusaha lebih baik saya akan diloloskan pada tes intervew pertama,
selanjutnya saya juga diberi motivasai oleh Rofik. Saya sangat berterimakasih
pada Tuhan karena dipertemukan dengan orang yang sangat baik hati seperti
mereka dan memperdulikan saya. Mmmmmm saya tidak akan melupakan moment ini,....
kami berbincang basa-basi,....
Jam sudah menunjukan pukul 12.15,
Rofik mengaja saya untuk makan dikantin, disana seluruh karyawan mendapat
makanan gratis tapi untuk minum mereka harus mengeluarkan uang sebesar 3rb
rupiah. Rofik membeli 2 teh gelas, 1 untuk saya dan satu untuk dia sendiri,
saya menjadi paling beda diantara orang yang berada di dalam kantin pabrik.
Karena sebagian besar dari mereka berseragam biru. Biarlah tak apa, pikir saya
dalam hati. Segera saya menghabiskan makan karena memang saat itu perut juga
keroncongan. Setelah makanan habis, tak lama kemudian bell pertanda jam
istirahat mereka telah selesai. Kamipun bergegas dan Rofik segera kembali ke
tempat kerjanya, sedangkan saya menuju ke gedung training kembali. Petugas HRD
memberi tahu interview saya akan dilakukan kembali pukul 15.30. Baik, saya
harus menunggu satu setengah jam karena saat itu jam menunjukan pukul 13.00.
Saat itu sudah sedikit pelamar kerja yang duduk menunggu mungkin hanya 5 orang.
Dan disamping saya ada seorang laki-laki yang kelihatannya kurang tenang. Saya
ajak dia ngobrol. Namanya Gunawan, dia berasal dari cilacap, seorang lulusan
UII 2008, dan sebelumnya dia pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik
di jakarta. Dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena gajinya tidak
seperti yang ia inginkan, saat ia bekerja dia digaji sebesar 3.5 jt namun ia
mengaku gajinya tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Obrolan-obrolan kecilpun
berlangsung, ternyata dia sudah diterima di PT. USG, ia paham daerah demak,
mranggen dan sekitarnya. Saya sangat kagum, karena tempat tinggal saya yang di
Purwodadi saja tidak begitu hafal, dan dia pernah berkunjung di gubug. Tentunya
pengalaman yang dia miliki lebih banyak daripada saya. Dia juga menganjurkan saya
untuk bekerja di PT. ARISA KARYA MANDIRI yang terletak di Mranggen, disana
proses perekrutan tenaga kerja tidak terlalu lama, dia juga menginformasikan
gaji disana yakni 2.1 jt. Iseng-iseng saya bertanya apakah kedepan ia ingin
selamanya menjadi karyawan ataukah ingin membuka usaha sendiri. Dan jawabannya
dengan kemantapan hati, “hari gini mau jadi buruh terus??” wow, ternyata dia
berambisi menjadi pengusaha. Lalu dia menceritakan beberapa temannya yang
berpotensi menjadi pengusaha. Saya juga sharing
tentang tawaran dosen saya yang bernama Bu Dhani agar saya bekerja sama
dengannya dengan bisnis kripik singkon. Saat itu saya juga memaparkan kendala
yang saya alami sehingga belum dapat melakukan kerja sama dengan bu Dhani.
Kendalanya adalah proses pendistribusian, saya takut jika nanti barang dagangan
banyak yang rusak/pecah, saya teringat pada paman saya yang dulu berjualan
kripik tempe. Beliau harus rela gulung tikar akibat kerusakan barang sewaktu
proses pendistribusian. Lalu dia menghimbau pengiriman barang menggunakan jasa
travel, dengan jasa itu menurutnya jauh lebih bagus dari jasa paket lewat pos.
Baik, dapat saya mengerti. Saya juga berbagi prospek usaha yang kiranya dapat
berjalan lancar untuk saya, seperti les/kursus. Kemudian dia bercerita, dia
juga mempunyai teman yang membuka tempat les, penghasilannya cukup banyak, bahkan
melebihi dari uang honor yang ia terima dari SD dia mengajar. Gunawan
mengajarkan kepada saya, bahwa dalam meraup keuntungan bukan dengan cara
mengambil laba sebesar mungkin, akan tetapi kita harus memasarkan produk/jasa
dengan laba kecil namun dalam kuantitas yang besar. Disitu kita mendapat
kepercayaan konsumen. Kemudian Gunawan diahampiri oleh petugas HRD dan memberi
tahu bahwa urusannya sudah selesai. Lalu Gunawan bergegas pulang. Tak lama kemudian saya dipanggil
untuk melakukan interview selanjutnya di gedung seberang, saat menuju gedung tersebut,
saya diantar oleh petugas bersama 1 orang perempuan yang juga hendak melakukan
interview. Saat sampai di seberang gedung, saya dan perempuan tadi diminta
duduk menunggu HRD senior. Saya mengajak ngobrol orang tersebut, dia seorang
lulusan Undip 2014 fakultas ekonomi managemen. Dan ternyata dia juga berasal
dari purwodadi tepatnya kundurun (salah satu tempat sebelah kecamatan saya).
Dia dulunya sekolah di semansa purwodadi, dan ternyata dia juga mengenal beberapa
teman smp saya. Saat menunggu saya juga melontarkan pertanyaan kepada yang
tadinya saya ajukan kepada Gunawan, dia tidak berminat menjadi pengusaha, tp
dia juga mengaku ingin tetap bekerja untuk membantu suami nantinya dalam
mencari nafkah. Perbedaan pendapat saya dengannya membuat perbincangan sedikit
menarik, karena saya lebih suka perempuan yang lebih mengutamakan dalam
mendidik anak daripada memikirkan jenjang karir. Selain mendafatar di PT. USG
dia juga mendaftar di Bank BRI, apabila diterima di Bank dia mengaku bersedia
keluar dari perusahaan. Setelah menunggu beberapa menit saya dan seorang
perempuan tadi kembali ke gedung trainer dikarenakan tidak ada ruangan. Bersama-sama
kami menuju gedung training, saya mempersilahkan perempuan tadi untuk menjalani
interview terlebih dahulu, karena saya kebelet pipis dari tadi. Interview yang
berlangsung sekitar 45 menit, setelah itu baru saya memasuki ruangan pertanyaan
yang diajukan tak jauh berbeda dengan interview yang pertama. Akan tetapi HRD
memberikan soal matematika yang sebenarnya tidak terlalu susah namun saya pada
saat itu tidak dapat mengerjakannya. Mmmm, mungkin karena panik atau grogi. Tak
terasa saya berada didalam ruangan selama 45 menit. Serasa putus harapan saya, karena hanya
mengerjakan soal sedemikian saya tidak bisa, sedih rasanya,....
Lalu bapak HRD menyudahi sesi
interview, beliau mengakatakan akan menyampaikan hasil tes saya ke ada atasan.
Apabila saya lolos tes, maka saya akan memperoleh kesempatan wawancara
selanjutnya, dengan dibeheritahukan melalui pesan singkat. Tapi melihat
interview tadi, sedikit peluang harapan saya untuk dipanggil kembali. Lalu saya
memutuskan untuk pulang kerumah. Sebagai rasa frustasi saya meningkatkan
kecepatan hingga batas kemampuan motor. Bahan bakar yang tersisa pada tangki
kendaraan menurut saya masih sampai pada spbu pasar godong dan ternyata
benar,....
Saya mengisi bahan bakar bensin
sebesar 20 ribu, dan tangki saya penuh kembali, melihat ada seseorang menjual
jagung rebus di area spbu, perut saya menjadi keroncongan dan saya memutuskan
untuk beristirahat sambil menyantap jagung yang telah saya beli. Usia penjual
jagung dapat dibilang sudah cukup tua, saat itu saya mendapati beliau sedang
ngobrol dengan seorang temannya mengenai betapa sulitnya kehidupan penjual
jagung tersebut. Saya sempat mendengar sepenggal perbincangannya yaitu bapak
penjual jagung harus bersusah payah mendapatkan jagung, dia mau tidak mau harus
mendapatkannya diluar kabupaten. Beliau awalnya pergi ke pati dan kembali
dengan tangan kosong, selanjutnya ke kudus, namun naas hal sama harus terulang
kembali akhirnya beliau mendapatkannya di Klaten, selanjutnya saya tidak begitu
memperhatikannya kembali. Sepertinya orang yang diajak ngobrol adalah karyawan
pengecek penumpang bus, hal ini saya ketahui karena beberapa saat kemudian dia
menghentikan sebuah bis lalu masuk sebentar dan kemudian turun di tempat
diamana dia menghentikan bus tersebut. Beberapa saat kemudian dia meninggalkan
bapak penjual jagung. Saya ingin tahu lebih dalam tentang apa yang bapak tersebut
alami tentang perjuangannya mencari sesuap nasi. Untuk memulai perbincangan
saya menunjukan keheranan sehingga ia harus mendapatkan jagung diluar
kabupaten, “masa benar pak, bapak harus mencari jagung sampai ke luar kabupaten
??”. “benar dek”, sepenggal jawaban yang selanjutnya di lanjutkan dengan cerita
panjang lebar. Beliau tak habis pikir dengan kebijakan pemerintah yang menaikan
harga bbm sebesar 2rb rupiah, hal itu sangat menambah beban hidupnya, karena
beliau mempunyai 7 orang anak, baru 3 diantaranya yang sudah bekerja dan dia
harus menjadi tulang punggung dari keempat anaknya dan seorang istri. Saat cari
jagung untuk dijual kembali dia menghabiskan uang banyak. Dia membeli jagung
dengan cara borongan per sawah, setelah melalui hitungan kalkulasi dia
mendapatkan harga 800 rupiah /jagung sementara jagung rebus yang ia jual
seharga 1500. Dengan menjual seharga itu menurut saya sudah mendapatkan untung
banyak. Tapi saya lupasekali berkeliling beliau membutuhkan 2 tabung gas untuk
memanaskan jagung tersebut, itu artinya dia harus merogoh kosek sebesar 40 rb
rupiah. Itu artinya beliau harus menjual sedikitnya 57 buah jagung bakar untuk
mengembaliikan modal. Itu saja dia masih merugi 100 rupiah serta tenaganya. Penghasilan
yang didapat dari menjual jagung diakuinya sangat minim, dia bingung mau kerja
apa. Sebenarnya dia ingin bekerja di
bangunan karena gajina lumayan lebih ketimbang jualan jagung, akan tetapi
tenaga yang dimilikinya kini semakin mengurang mengingat usianya yang kian
menua. Terpaksa beliau melanjutkan usahanya menjual jagung. Saya dapat
merasakan betul betapa sulitnya mencari sesuap nasi. Menurut saya yang menjadi
kendala berjualan jagung adalah waktu, apakah mungkin dalam sehari dapat
menjual lebih dari 150 buah jagung agar beliau dapat menghidupi 4 orang anak
dan 1 istrinya ?? terlbih masih ada anak nya yang duduk di bangku smk. Permasalahan
waktu disini tentunya menjadi kendala bagi beliau. Belum lagi beliau sudah tua
tak banyak tenaga yang dimilikinya. Ditengah-tangah obrolan kami, kami melihat
motor tossa yang tidak dapat berjalan mundur lurus yang sedikit menanjak
ditambah lagi kendaraan tersebut memuat beras yang cukup banyak. Bapak penjual
jagung pun mengomentarinya, “bodoh!!! Tentu saja tidak bisa, muatan berat
berjalan mundur dengan keadaan setang lurus seharusnya walaupun sedikit setang
harus dibelokan agar dapat berjalan mundur”. Ternyata orang ini blagu juga
(pikir saya). Tapi saya pikir-pikir ada benarnya juga, saya sampai tidak
menyadari akan hal itu, sebenarnya bapak tersebut orang yang cerdas. Lalu dia
bercerita mengapa dia mengomentari kendaraan tossa demikian, beliau mengaku
mantan sopir kontainer gandeng. Mmmm, pantas dia terlihat sudah berpengalaman.
Dia berhenti dari profesinya sekitar 7 tahun, gaji yang ia terima dirasa tidak
setimpal dengan apa yang dia kerjakan sehingga dia memutuskan untuk berhenti.
Dia bercerita banyak mengenai kehidupannya dahulu. Dia bekerja sebagai sopir
kontainer kurang lebih 17 tahun. Dahulu perusahaan bersedia memberikan sebuah
mobil kepada sopirnya apabila telah bekerja selama 10 tahun, akan tetapi saya
tidak mengetahui apakah beliau mendapatkan sebuah mobil apa tidak. Karena saya
lupa menanyakan hal itu. Sambil bercerita saya menawarkan rokok agar percakapan
lebih asik. Beliau dulu sering mengirim barang seperti pupuk dan beras, sekali
jalan diberikan uang transpot sebesar 2.5 jt dan dia harus mengambil uang tsb
sebesar 1.5-2 jt dan sisanya dibagi dengan kenek yang menemaninya. Lalu
lama-lama gaji yang beliau terima tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga,
akhirnya dia memutuskan untuk berhenti menjadi sopir. Dia bercerita saat ini
pun sopir bis malam purwodadi-jakarta hanya digaji 150 ribu sekali berangkat.
Menurutnya masih untung menjadi supir panggilan didesa ataupun yang tidak
terikat dengan perusahaan.
Banyak sekali pelajaran saat saya
memenuhi panggilan tes dan interview di PT. Ungaran Sari Garment, semoga hal
ini menjadi awal yang bagus dalam karir saya. Amin,.....
Sekarang kerja dimana kak?
BalasHapusBalik kampung, kerja deket2 rumah,...
HapusCerita dalam 1 hari ya itu? Keren.
BalasHapusIya, waktu itu lagi g waras. Penyakit nulisnya kambuh.
HapusSaya ada panggilan interview di Pt. USG Semarang kak. Boleh tau gak gaji nya kira2 berapa klo lolos? Kalo tau balse yoo :)
BalasHapusWaktu itu saya mnt 2,5 kalau g salah.
BalasHapus2.5 tuh taun 2014 kan yaa.. sekarang 2019 piro yoo hahaa
BalasHapusKalo di tanya mau gaji berapa dijawab nya gmna ya kak?
BalasHapusSaya fleksibel dan terbuka untuk berdiskusi paket kompensasi yang pantas untuk saya disesuaikan dengan kisaran standar perusahaan dan pengalaman. Sebelum saya memberikan penawaran gaji, saya berharap dari pihak PT. USG bisa menjelaskan lebih lanjut tentang tanggung jawab dan target pada posisi ini?" Dengan begitu, saya pribadi bisa menilai apakah gaji yang diberikan perusahaan sebanding atau tidak dengan tanggung jawab dan tugas yang diemban.
HapusMasyaAllah menginspirasi sekali, jarang jarang orang yang suka nulis bang, kebetulan saya tanggal 26 juli 2021 ada panggilan test interview di PT USG :") , mau nembak PPMC sedangkan bertabrakan mulai training di PT Infomedia Nusantara as agent live chat JD.ID jogja, mau research dulu gimana tanggungjawab, benefit yang didapatkan , apa saja bentuk interviewnya, dan prospek kedepannya klo saya terpilih di bagian PPCM , salam hangat dari mantan mahasiswa ujung kandang salah satu fakultas di universitas negeri di Yogyakarta semoga barokah dengan pekerjaan saat ini ,^^
BalasHapus