Kamis, 11 Desember 2014

Awal panggilan interview yang mengesankan

6 desember dini hari kurang lebih pukul 04.00 saya sudah bangun karena harus memenuhi panggilan interview dan tes yang berupa sms yang dikirim pada kemarin sore. Pelaksanaan tes tersebut akan berlangsung di gedung training  PT. USG, tepatnya Jl Pringapus km 5, Ungaran. Saya sendiri belum tahu persis tempatnya, maka dari itu saya berusaha sedini mungkin untuk dapat datang sebelum pukul 09.00. Karena semalam saya sudah mempersiapkan barang apa saja yang harus saya bawa, saya dapat berangkat dari rumah pukul 04.45, saya memperkirakan lama perjalana purwodadi-ungaran pada jam kerja sekitar 3 jam.
Jalan Mranggen-Semarang dipenuhi oleh anak sekolah dan pekerja pabrik, kemacetan saat itu benar-benar cukup memakan banyak waktu. Keadaan tersebut membuat saya dahaga, dan saya baru menyempatkan membeli minuman mineral di minimarket dan tak lupa rokok. Saya memutuskan beristirahat sebentar sembari menghisap rokok di depan minimarket sambil membaca buku. Selang beberapa menit tanpa sadar duduk seorang bapak-bapak disamping saya yang sepertinya juga sedang beristirahat, beliau meminta tolong putrinya untuk membeli sesuatu dan beliau menunggu disamping saya. Bermaksud basa-basi saya ajak ngobrol, dari inforamasi yang saya dapat darinya diantaranya adalah ternyata dia juga asli orang purwodadi, beliau hendak berobat di pengobatan alternatif. Dia memilih jalur alternatif karena jalur alternatif dirasa lebih efektif daripada perawatan medis, karena dia sudah membuktikan sendiri sebelumnya. Sakitnya dapat dibilang sudah menginjak permasalahan serius yaitu medis menyatakan bahwa beliau mngidap stroke, kondisinya pada saat itu sudah tidak dapat berbicara dengan jelas bahkan sudah tidak dapat dipahami (dalam istilah bahasa jawa disebut pelo). Saya lupa untuk menanyakan bagaimana awal cerita sampai dia tahu pengobatan alternatif di sumowono. Sepulang rawat inap dari rumah sakit beliau masih belum sembuh total, kadang gemeteran hingga tidak dapat mengendarai sepeda motor. Akan tetapi setelah berobat di sumowono (kalau tidak salah namanya Haji Tatri, sebelah barat pasar terminal) sebanyak tiga kali beliau sudah lebih baik. Hanya itu informasi yang saya dapat darinya. Lalu saya melanjutkan perjalanan....
Ternyata saya lupa untuk membeli facial foam, karena saya ingin dalam wawancara nantinya wajah saya dalam keadaan fresh dan meyakinkan. Saya juga membeli permen agar saya tidak terlalu banyak merokok, sempat saya bertanya bapak-bapak yang sedang berada di warung pinggiran tentang ketepatan lokasi PT. USG dan ternyata letak perusahaan tersebut berada sebelah timur polsek bergas. Kira-kira 5 km, sesampai didepan perusahaan, saya memutuskan untuk merokok didepan perusahaan karena juga masih terlalu awal untuk menemui HRD. Kalau tidak salah saat itu pukul 08.15. Sambil merokok saya merencanakan yang akan saya lakukan nantinya, setelah parkir motor saya harus lepas jaket, tanya pak satpam lalu menuju gedung trainer. Sesampai disana saya harus menjawab dengan jawaban sebagus mungkin dan yang paling utama jangan sampai terlihat panik.
Rokok habis, saya langsung memasuki pintu gerbang, dan belum dimuali apa-apa saya lupa untuk mencopot jaket. Wah-wah,..... Di pos penjagaan saya dilayani dengan baik, dia menjelaskan  peraturan untuk menuju gedung trainer adalah harus meninggalkan tas dan ktp di pos penjagaan, dengan polos saya mengikuti aturan tersebut, dan saya membawa alat tulis,  setelah mengemas alat tulis saya berjalan menuju gedung training bersama 2 orang asli ungaran dan satu orang dari blora, mereka juga bermaksud melamar pekerjaan. Kadang-kandang saya memperbincangkan sesuatu. Namun kadang-kadang kami terdiam karena belum saling mengenal satu sama lain, dan saat keheningan tersebut saya diingatkan oleh satu dari mereka mengenai berkas lamaran, karena saat itu tidak saya bawa, dan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke pos satpam untuk menganmbilnya. Setelah itu saya bergegas menuju gedung training sendirian.,
Sesampai di gedung training, saya sempat merasa malu karena hanya saya yang memakai pakaian ala anak muda dengan hem hitam dan celana hitam yang agak ketat ditambah lagi sepatu yang saya gunakan bukan sepatu formal, sedangkan yang lainnya memakai baju atasan dan bawahan berbahan kain yang berwarna hitam putih. Saya langsung diminta untuk mengisi formulir pendaftaran dan beberapa pertanyaan singkat diantaranya adalah, “apa kelebihan dan kekurangan anda, apa motivasi anda bekerja di PT. USG, apa yang anda ketahui tentang PT. USG, apa harapan anda jika sudah diterima di PT. USG, apa hobi anda, apa yang ingin anda lakukan saat mempunyai waktu luang.” Hanya itu yang sempat saya ingat, saya mencoba menjawab semua pertanyaan tersebut sebaik mungkin. Inti dari jawaban saya adalah dengan partisipasi yang saya berikan saya berharap dapat membantu dalam meningkatkan kualitas, serta saya dapat mengembangkan bakat serta kemampuan saya dan saya mencoba mengemukakan sedikit kelebihan saya yang kiranya dapat menjadi nilai tambah dalam pekerjaan bidang garmen. Seusai mengisi formulir saya diminta untuk menjalani tes kesehatan di klinik, dan klinik tersebut terdapat pada gedung pringapus1. Gedung tersebut sangat besar, mungkin luasnya hapir seluas lapangan sepak bola saya harus berjalan cukup jauh di dalam gedung untuk mencapai klinik, sesampai diklinik ternyata penuh dengan calon karyawan yang akan menjalani tes kesehatan, dokter disana menghimbau agar saya diperiksa di klinik lain yang bertempat di gedung pringapus2. Saya segera menuju klinik pringapus2, gedung tersbut merupakan bagian seeing (penjahitan pakaian, pemasangan kancing baju dll) saat memasuki gedung tersebut saya terheran karena melihat banyak orang bekerja seperti robot. Mereka tertunduk fokus pada mesin jahit, tanpa menghiraukan kanan kirinya. Oke, Saya segera menuju ruang pemeriksaan. Di sana, tes kesehatan seperti tensi, tinggi berat badan, histori penyakit dll sepertinya berjalan dengan baik, akan tapi terdapat satu tes kesehatan yang membuat saya down,  yaitu tes buta warna. Dari 4 angka tokek yang harus saya jawab, tak satupun dapat terjawab. Akhirnya ibu dokter hanya meminta  menjawab warna apa yang sedang ia tunjuk, dan saya dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Lalu dia menyuruh saya untuk menemui seseorang, dan dia menitipkan kertas yang sepertinya adalah hasil tes keseehatan diri saya kepada dokter senior di gedung pringapus3. Mamasuki gedung saya disambut oleh seorang perempuan berseragam satpam, saat itu saya diberi petunjuk dimana saya harus mencari dokter senior. Keadaan di dalam gedung pringapus3 hampir mirip dengan gedung pringapus2, karyawan sibuk menggerakan setrika yang ada ditangan mereka, tanpa berlama-lama saya segera menuju ruangan yang dimaksud. Setelah bertemu bu dokter, beliau hanya mengajukan pertanyaan singkat jika mempunyai sejarah penyakit yang pernah diderita. Dan akhirnya tes kesehatan telah selesai. Pesan yang diberikan oleh petugas yang menyuruh tes kesehatan adalah jika tes selesai segera menuju gedung training, dan saya segera bergegas menuju gedung training, disana saya langsung diberikan soal sebanyak 45 soal, 35 soal sedang dang 10 diantaranya soal logika ringan dimana terdapat 2 pilihan jawaban soal, waktu yang diberikan selama 1 jam. Menurut saya soal yang paling susah adalah permasalahan pertidaksamaan linier dan ada juga yang melibatkan trigonometri. Kebanyakan soal berbentuk operasi hitung tapi dalam skala ribuan. Ada sekitar 5-8 soal yang saya jawab secara asal. Setelah selesai saya segera menyerahkan kepada petugas, lalu beberapa menit kemudian saya diberi kesempatan untuk interview. Seperti interview-interview biasa saya diminta untuk memperkenalkan diri menggunakan bahasa inggris, dan saya belum dapat menjelaskan diri saya menggunakan bahasa inggris dengan baik. HRD menanyakan kepada saya apakah saya seorang peminum ataupun perokok, saya menjawab apa adanya dengan tegas, “dulu saya juga peminum tp  sekarang tidak sama sekali, dan soal rokok saya masih aktif dan saya berkeinginan untuk berhenti merokok”. Dia menganggap saya berasal dari keluarga yang mampu karena melihat pekerjaan orang tua saya, tentunya dengan keadaan tersebut dia mengira hidup saya jarang mendapatkan tekanan dalam keluarga, lalu saya menjelaskan keadaan saudara-saudara saya yang kebanyakan belum mapan serta saya dirumah ibu saya sering mengeluh karena saya tak kunjung mendapat pekerjaan, selanjutnya dia menanyakan kepada saya apakah mempunyai teman ataupun kerabat di dalam perusahaan, dan saya juga jawab dengan jujur, “ya, saya punya, dia adalah Rofik saya kenal sejak duduk di bangku kuliah.” Karyawan HRD tersebut lantas segera menghubungi Rofik agar dapat menuju gedung training. Mmmmmm, ternyata petugas HRD tersebut juga meminta pertimbangan kepada Rofik apakah saya layak untuk bekerja di perusahaan tersebut. Baru saya tahu, mengapa dia bertanya demikian. Dan Rofik menyetujui agar saya dapat bekerja di PT. USG. Saya kali ini banyak berhutang budi padanya, padahal saya tahu pasti dia mengetahui saya belum mempunyai kemampuan yang cukup untuk bekerja. Saya harus berterimakasih banyak padanya. Perbincangan kami bertiga yaitu saya, Rofik dan petugas HRD menjadi tidak tegang dan HRD mulai ngobrol terbuka bahkan dia juga menyuport saya, dia menilai bahwa saya kurang tegas hal itu dapat dillihat dari mimik wajah, dan postur tubuh. Dia meminta saya agar lebih tegas dan apabila saya bersedia berjuang dan berusaha lebih baik saya akan diloloskan pada tes intervew pertama, selanjutnya saya juga diberi motivasai oleh Rofik. Saya sangat berterimakasih pada Tuhan karena dipertemukan dengan orang yang sangat baik hati seperti mereka dan memperdulikan saya. Mmmmmm saya tidak akan melupakan moment ini,.... kami berbincang basa-basi,....
Jam sudah menunjukan pukul 12.15, Rofik mengaja saya untuk makan dikantin, disana seluruh karyawan mendapat makanan gratis tapi untuk minum mereka harus mengeluarkan uang sebesar 3rb rupiah. Rofik membeli 2 teh gelas, 1 untuk saya dan satu untuk dia sendiri, saya menjadi paling beda diantara orang yang berada di dalam kantin pabrik. Karena sebagian besar dari mereka berseragam biru. Biarlah tak apa, pikir saya dalam hati. Segera saya menghabiskan makan karena memang saat itu perut juga keroncongan. Setelah makanan habis, tak lama kemudian bell pertanda jam istirahat mereka telah selesai. Kamipun bergegas dan Rofik segera kembali ke tempat kerjanya, sedangkan saya menuju ke gedung training kembali. Petugas HRD memberi tahu interview saya akan dilakukan kembali pukul 15.30. Baik, saya harus menunggu satu setengah jam karena saat itu jam menunjukan pukul 13.00. Saat itu sudah sedikit pelamar kerja yang duduk menunggu mungkin hanya 5 orang. Dan disamping saya ada seorang laki-laki yang kelihatannya kurang tenang. Saya ajak dia ngobrol. Namanya Gunawan, dia berasal dari cilacap, seorang lulusan UII 2008, dan sebelumnya dia pernah bekerja sebagai karyawan di sebuah pabrik di jakarta. Dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena gajinya tidak seperti yang ia inginkan, saat ia bekerja dia digaji sebesar 3.5 jt namun ia mengaku gajinya tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Obrolan-obrolan kecilpun berlangsung, ternyata dia sudah diterima di PT. USG, ia paham daerah demak, mranggen dan sekitarnya. Saya sangat kagum, karena tempat tinggal saya yang di Purwodadi saja tidak begitu hafal, dan dia pernah berkunjung di gubug. Tentunya pengalaman yang dia miliki lebih banyak daripada saya. Dia juga menganjurkan saya untuk bekerja di PT. ARISA KARYA MANDIRI yang terletak di Mranggen, disana proses perekrutan tenaga kerja tidak terlalu lama, dia juga menginformasikan gaji disana yakni 2.1 jt. Iseng-iseng saya bertanya apakah kedepan ia ingin selamanya menjadi karyawan ataukah ingin membuka usaha sendiri. Dan jawabannya dengan kemantapan hati, “hari gini mau jadi buruh terus??” wow, ternyata dia berambisi menjadi pengusaha. Lalu dia menceritakan beberapa temannya yang berpotensi menjadi pengusaha. Saya juga sharing tentang tawaran dosen saya yang bernama Bu Dhani agar saya bekerja sama dengannya dengan bisnis kripik singkon. Saat itu saya juga memaparkan kendala yang saya alami sehingga belum dapat melakukan kerja sama dengan bu Dhani. Kendalanya adalah proses pendistribusian, saya takut jika nanti barang dagangan banyak yang rusak/pecah, saya teringat pada paman saya yang dulu berjualan kripik tempe. Beliau harus rela gulung tikar akibat kerusakan barang sewaktu proses pendistribusian. Lalu dia menghimbau pengiriman barang menggunakan jasa travel, dengan jasa itu menurutnya jauh lebih bagus dari jasa paket lewat pos. Baik, dapat saya mengerti. Saya juga berbagi prospek usaha yang kiranya dapat berjalan lancar untuk saya, seperti les/kursus. Kemudian dia bercerita, dia juga mempunyai teman yang membuka tempat les, penghasilannya cukup banyak, bahkan melebihi dari uang honor yang ia terima dari SD dia mengajar. Gunawan mengajarkan kepada saya, bahwa dalam meraup keuntungan bukan dengan cara mengambil laba sebesar mungkin, akan tetapi kita harus memasarkan produk/jasa dengan laba kecil namun dalam kuantitas yang besar. Disitu kita mendapat kepercayaan konsumen. Kemudian Gunawan diahampiri oleh petugas HRD dan memberi tahu bahwa urusannya sudah selesai. Lalu Gunawan bergegas  pulang. Tak lama kemudian saya dipanggil untuk melakukan interview selanjutnya di gedung seberang, saat menuju gedung tersebut, saya diantar oleh petugas bersama 1 orang perempuan yang juga hendak melakukan interview. Saat sampai di seberang gedung, saya dan perempuan tadi diminta duduk menunggu HRD senior. Saya mengajak ngobrol orang tersebut, dia seorang lulusan Undip 2014 fakultas ekonomi managemen. Dan ternyata dia juga berasal dari purwodadi tepatnya kundurun (salah satu tempat sebelah kecamatan saya). Dia dulunya sekolah di semansa purwodadi, dan ternyata dia juga mengenal beberapa teman smp saya. Saat menunggu saya juga melontarkan pertanyaan kepada yang tadinya saya ajukan kepada Gunawan, dia tidak berminat menjadi pengusaha, tp dia juga mengaku ingin tetap bekerja untuk membantu suami nantinya dalam mencari nafkah. Perbedaan pendapat saya dengannya membuat perbincangan sedikit menarik, karena saya lebih suka perempuan yang lebih mengutamakan dalam mendidik anak daripada memikirkan jenjang karir. Selain mendafatar di PT. USG dia juga mendaftar di Bank BRI, apabila diterima di Bank dia mengaku bersedia keluar dari perusahaan. Setelah menunggu beberapa menit saya dan seorang perempuan tadi kembali ke gedung trainer dikarenakan tidak ada ruangan. Bersama-sama kami menuju gedung training, saya mempersilahkan perempuan tadi untuk menjalani interview terlebih dahulu, karena saya kebelet pipis dari tadi. Interview yang berlangsung sekitar 45 menit, setelah itu baru saya memasuki ruangan pertanyaan yang diajukan tak jauh berbeda dengan interview yang pertama. Akan tetapi HRD memberikan soal matematika yang sebenarnya tidak terlalu susah namun saya pada saat itu tidak dapat mengerjakannya. Mmmm, mungkin karena panik atau grogi. Tak terasa saya berada didalam ruangan selama 45 menit.  Serasa putus harapan saya, karena hanya mengerjakan soal sedemikian saya tidak bisa, sedih rasanya,....
Lalu bapak HRD menyudahi sesi interview, beliau mengakatakan akan menyampaikan hasil tes saya ke ada atasan. Apabila saya lolos tes, maka saya akan memperoleh kesempatan wawancara selanjutnya, dengan dibeheritahukan melalui pesan singkat. Tapi melihat interview tadi, sedikit peluang harapan saya untuk dipanggil kembali. Lalu saya memutuskan untuk pulang kerumah. Sebagai rasa frustasi saya meningkatkan kecepatan hingga batas kemampuan motor. Bahan bakar yang tersisa pada tangki kendaraan menurut saya masih sampai pada spbu pasar godong dan ternyata benar,....
Saya mengisi bahan bakar bensin sebesar 20 ribu, dan tangki saya penuh kembali, melihat ada seseorang menjual jagung rebus di area spbu, perut saya menjadi keroncongan dan saya memutuskan untuk beristirahat sambil menyantap jagung yang telah saya beli. Usia penjual jagung dapat dibilang sudah cukup tua, saat itu saya mendapati beliau sedang ngobrol dengan seorang temannya mengenai betapa sulitnya kehidupan penjual jagung tersebut. Saya sempat mendengar sepenggal perbincangannya yaitu bapak penjual jagung harus bersusah payah mendapatkan jagung, dia mau tidak mau harus mendapatkannya diluar kabupaten. Beliau awalnya pergi ke pati dan kembali dengan tangan kosong, selanjutnya ke kudus, namun naas hal sama harus terulang kembali akhirnya beliau mendapatkannya di Klaten, selanjutnya saya tidak begitu memperhatikannya kembali. Sepertinya orang yang diajak ngobrol adalah karyawan pengecek penumpang bus, hal ini saya ketahui karena beberapa saat kemudian dia menghentikan sebuah bis lalu masuk sebentar dan kemudian turun di tempat diamana dia menghentikan bus tersebut. Beberapa saat kemudian dia meninggalkan bapak penjual jagung. Saya ingin tahu lebih dalam tentang apa yang bapak tersebut alami tentang perjuangannya mencari sesuap nasi. Untuk memulai perbincangan saya menunjukan keheranan sehingga ia harus mendapatkan jagung diluar kabupaten, “masa benar pak, bapak harus mencari jagung sampai ke luar kabupaten ??”. “benar dek”, sepenggal jawaban yang selanjutnya di lanjutkan dengan cerita panjang lebar. Beliau tak habis pikir dengan kebijakan pemerintah yang menaikan harga bbm sebesar 2rb rupiah, hal itu sangat menambah beban hidupnya, karena beliau mempunyai 7 orang anak, baru 3 diantaranya yang sudah bekerja dan dia harus menjadi tulang punggung dari keempat anaknya dan seorang istri. Saat cari jagung untuk dijual kembali dia menghabiskan uang banyak. Dia membeli jagung dengan cara borongan per sawah, setelah melalui hitungan kalkulasi dia mendapatkan harga 800 rupiah /jagung sementara jagung rebus yang ia jual seharga 1500. Dengan menjual seharga itu menurut saya sudah mendapatkan untung banyak. Tapi saya lupasekali berkeliling beliau membutuhkan 2 tabung gas untuk memanaskan jagung tersebut, itu artinya dia harus merogoh kosek sebesar 40 rb rupiah. Itu artinya beliau harus menjual sedikitnya 57 buah jagung bakar untuk mengembaliikan modal. Itu saja dia masih merugi 100 rupiah serta tenaganya. Penghasilan yang didapat dari menjual jagung diakuinya sangat minim, dia bingung mau kerja apa. Sebenarnya dia ingin  bekerja di bangunan karena gajina lumayan lebih ketimbang jualan jagung, akan tetapi tenaga yang dimilikinya kini semakin mengurang mengingat usianya yang kian menua. Terpaksa beliau melanjutkan usahanya menjual jagung. Saya dapat merasakan betul betapa sulitnya mencari sesuap nasi. Menurut saya yang menjadi kendala berjualan jagung adalah waktu, apakah mungkin dalam sehari dapat menjual lebih dari 150 buah jagung agar beliau dapat menghidupi 4 orang anak dan 1 istrinya ?? terlbih masih ada anak nya yang duduk di bangku smk. Permasalahan waktu disini tentunya menjadi kendala bagi beliau. Belum lagi beliau sudah tua tak banyak tenaga yang dimilikinya. Ditengah-tangah obrolan kami, kami melihat motor tossa yang tidak dapat berjalan mundur lurus yang sedikit menanjak ditambah lagi kendaraan tersebut memuat beras yang cukup banyak. Bapak penjual jagung pun mengomentarinya, “bodoh!!! Tentu saja tidak bisa, muatan berat berjalan mundur dengan keadaan setang lurus seharusnya walaupun sedikit setang harus dibelokan agar dapat berjalan mundur”. Ternyata orang ini blagu juga (pikir saya). Tapi saya pikir-pikir ada benarnya juga, saya sampai tidak menyadari akan hal itu, sebenarnya bapak tersebut orang yang cerdas. Lalu dia bercerita mengapa dia mengomentari kendaraan tossa demikian, beliau mengaku mantan sopir kontainer gandeng. Mmmm, pantas dia terlihat sudah berpengalaman. Dia berhenti dari profesinya sekitar 7 tahun, gaji yang ia terima dirasa tidak setimpal dengan apa yang dia kerjakan sehingga dia memutuskan untuk berhenti. Dia bercerita banyak mengenai kehidupannya dahulu. Dia bekerja sebagai sopir kontainer kurang lebih 17 tahun. Dahulu perusahaan bersedia memberikan sebuah mobil kepada sopirnya apabila telah bekerja selama 10 tahun, akan tetapi saya tidak mengetahui apakah beliau mendapatkan sebuah mobil apa tidak. Karena saya lupa menanyakan hal itu. Sambil bercerita saya menawarkan rokok agar percakapan lebih asik. Beliau dulu sering mengirim barang seperti pupuk dan beras, sekali jalan diberikan uang transpot sebesar 2.5 jt dan dia harus mengambil uang tsb sebesar 1.5-2 jt dan sisanya dibagi dengan kenek yang menemaninya. Lalu lama-lama gaji yang beliau terima tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti menjadi sopir. Dia bercerita saat ini pun sopir bis malam purwodadi-jakarta hanya digaji 150 ribu sekali berangkat. Menurutnya masih untung menjadi supir panggilan didesa ataupun yang tidak terikat dengan perusahaan.

Banyak sekali pelajaran saat saya memenuhi panggilan tes dan interview di PT. Ungaran Sari Garment, semoga hal ini menjadi awal yang bagus dalam karir saya. Amin,.....

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya, waktu itu lagi g waras. Penyakit nulisnya kambuh.

      Hapus
  2. Saya ada panggilan interview di Pt. USG Semarang kak. Boleh tau gak gaji nya kira2 berapa klo lolos? Kalo tau balse yoo :)

    BalasHapus
  3. Waktu itu saya mnt 2,5 kalau g salah.

    BalasHapus
  4. 2.5 tuh taun 2014 kan yaa.. sekarang 2019 piro yoo hahaa

    BalasHapus
  5. Kalo di tanya mau gaji berapa dijawab nya gmna ya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya fleksibel dan terbuka untuk berdiskusi paket kompensasi yang pantas untuk saya disesuaikan dengan kisaran standar perusahaan dan pengalaman. Sebelum saya memberikan penawaran gaji, saya berharap dari pihak PT. USG bisa menjelaskan lebih lanjut tentang tanggung jawab dan target pada posisi ini?" Dengan begitu, saya pribadi bisa menilai apakah gaji yang diberikan perusahaan sebanding atau tidak dengan tanggung jawab dan tugas yang diemban.

      Hapus
  6. MasyaAllah menginspirasi sekali, jarang jarang orang yang suka nulis bang, kebetulan saya tanggal 26 juli 2021 ada panggilan test interview di PT USG :") , mau nembak PPMC sedangkan bertabrakan mulai training di PT Infomedia Nusantara as agent live chat JD.ID jogja, mau research dulu gimana tanggungjawab, benefit yang didapatkan , apa saja bentuk interviewnya, dan prospek kedepannya klo saya terpilih di bagian PPCM , salam hangat dari mantan mahasiswa ujung kandang salah satu fakultas di universitas negeri di Yogyakarta semoga barokah dengan pekerjaan saat ini ,^^

    BalasHapus